Benar atau tidaknya saya tidak tahu, tapi tadi ketika iseng iseng searching nemu artikel seperti ini, lumayan buat bahan kajian postingan di blog saya.
Para ahli pertama kali memindai patung ini pada tahun 1992, namun kini hasil yang lebih terperinci dapat diperoleh berkat kemajuan teknologi, ujar Alexander Huppertz, direktur Imaging Science Institute di Berlin.

Gambaran baru ini menunjukkan bahwa wajah “tersembunyi” Nefertiti hasilnya jauh lebih realistis dengan ditemui sejumlah lekukan di sudut bibir (atas, bawah dan kiri) serta pipi dan tonjolan di hidungnya.

 
“Alat pemindai CT mampu menampilkan sisi dalam wajah yang tidak hanya bentuk yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata akan tetapi ia diperkaya dengan seni berkualitas tinggi,” jelas Huppertz.

Di lapisan plester semen terakhir (atas, kiri bagian atas) dari patung itu, Thutmose ternyata ingin melicinkan kedutan dan benjolan hidung sang ratu, mungkin untuk memantulkan “ciri khas era saat itu,” tambah Huppertz, yang penelitiannya dituangkan di Jurnal Radiologi edisi April.

Nefertiti adalah Permaisuri Agung (atau istri utama) dari Fiaun Amenhotep IV (kemudian bergelar Akhenaten) dan merupakan ibu mertua dan mungkin ibu tiri dari Firaun Tutankhamun.

Ia juga kemungkinan memerintah kerajaan dalam waktu singkat dengan nama Neferneferuaten-Nefertiti setelah suaminya meninggal dan sebelum bertahtanya Tutankhamun.
 
 
filed under: ,
Inggris memiliki banyak kisah dan legenda. Kadang susah diterima oleh akal sehat. Misalnya yang satu ini. Kebenarannya diragukan sebagian orang. Tapi sebagian lain mempercayainya sebagai sebuah kesaksian sejarah. Walaupun cerita ini lebih mirip kisah dalam salah satu karya HC Andersen atau JRR Tolkien, namun hingga kini, kisah ini masih banyak dipelajari oleh berbagai kalangan, baik sejarawan, ahli kisah rakyat hingga Cryptozoologyst. Ini adalah legenda mengenai The Green Children of Woolpit atau anak-anak hijau dari Woolpit.


Legenda ini terjadi di abad ke-12, saat masa pemerintahan raja Stephen (1135 - 1154 Masehi) dan terjadi di sebuah desa kecil di Suffolk yang bernama Woolpit. Nama "Woolpit" mungkin berasal dari Wolfpitt yang berarti lubang/parit besar yang digunakan untuk menjebak serigala yang ada di desa itu.
 
Suatu hari, para penduduk desa menyaksikan dengan takjub ketika dua orang anak kecil merangkak keluar dari parit itu. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang lebih muda. Mereka berdua menggunakan pakaian yang aneh dan berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk desa. Namun, yang membuat para penduduk desa keheranan adalah kulit mereka - seluruhnya berwarna hijau!

Karena tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, para penduduk kemudian membawa kedua anak yang terlihat sedih dan menangis itu ke rumah Sir Richard de Calne, seorang tuan tanah lokal. Di rumah itu, mereka tinggal dan diperlakukan dengan baik oleh Sir Richard dan para pelayannya.

Namun, tidak berapa lama kemudian, anak laki-laki itu jatuh sakit dan kurang dari setahun, ia meninggal. Untungnya, anak yang perempuan berhasil bertahan hidup. Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, warna hijau pada tubuhnya perlahan menghilang dan berubah menjadi normal. Ia diberi nama Agnes. Kemudian, Agnes menikah dengan seorang bangsawan dari Norfolk dan menggunakan nama Agnes Barre.

Karena nama ini pula, banyak yang percaya bahwa pemegang gelar Earl Ferrers (gelar bangsawan Inggris) yang sekarang adalah keturunan langsung dari Agnes (Salah satu leluhur dari Earl Ferrers bernama Sir John Barre).

Selama di rumah Sir Richard, Agnes belajar bahasa Inggris. Ketika ia sudah lancar berkomunikasi, ia mulai menceritakan bagaimana ia dan adik laki-lakinya bisa sampai ke Woolpit. Ia mengatakan bahwa mereka berasal dari sebuah tempat yang bernama St.Martin yang hanya memiliki sedikit cahaya matahari dan para penduduknya semua berkulit hijau. Sebuah sungai besar memisahkan desa mereka dengan desa lain yang selalu terang benderang.

Suatu hari, ketika mereka berdua sedang membantu ayah mereka menjaga ternak, Agnes dan adiknya mendengar suara lonceng di dalam gua, mereka mengikutinya menuju ke dalam gua sampai menemukan lubang di permukaan tanah (parit) yang sampai ke Woolpit. Saat itulah kedua anak itu terlihat oleh para penduduk desa yang ada di ladang.

Kisah anak-anak hijau ini pertama kali diceritakan oleh penulis abad ke-13 bernama William of Newbridge dan Ralph of Cogestal. William (1136-1198), seorang sejarawan Inggris, menceritakan kisah ini dalam karyanya berjudul "Historia rerum Anglicarum" atau "History of English Affairs" yang menceritakan sejarah Inggris dari tahun 1066 hingga tahun 1198.
 
Sedangkan Ralph (meninggal tahun 1228) menceritakan kisah ini dalam karyanya "Chronicon Anglicanum" atau "English Chronicle" yang menceritakan sejarah Inggris antara tahun 1187 hingga 1224. Ralph juga mengaku bahwa ia sering mendengar mengenai anak-anak hijau ini dari Sir Richard de Calne sendiri.

Selain kedua sumber utama di atas, kisah misterius ini juga bisa ditemukan sebagai referensi dalam buku-buku abad pertengahan lainnya seperti "The anatomy of Melancholy" yang ditulis oleh Robert Burton pada tahun 1621 dan "The Fairy Mythology" yang ditulis oleh Thomas Keightley pada tahun 1828.

Kisah ini juga beredar dengan beberapa versi yang sedikit berbeda. Ada yang mengatakan kalau sesungguhnya anak-anak hijau ditemukan pada masa pemerintahan raja Henry II, bukan Raja Stephen.

Bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah sebuah mitos. Seorang ahli cerita rakyat Inggris bernama Dr.Katharine Briggs menulis dalam "A Dictionary of Fairies" yang terbit tahun 1976 bahwa kisah ini mengandung banyak unsur legenda dan mitos, seperti warna hijau, tanah yang selalu gelap dan dunia bawah tanah. Ia menganggap cerita ini penuh dengan aspek mitologi dan dongeng.

Namun bagi yang lain, kisah ini mungkin benar-benar terjadi. Karena itu beberapa penjelasan berusaha diberikan.

Teori yang paling ekstrem mengatakan kalau kedua anak ini datang dari dunia lain di dalam bumi yang dengan suatu cara menemukan pintu dimensi lain yang telah membawa mereka ke Woolpit.

Teori lain mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak alien yang secara tidak sengaja mendarat di bumi. Salah satu pendukung teori alien ini adalah astronom Skotlandia bernama Duncan Lunan. Pada konferensi yang diselenggarakan oleh majalah Fortean Times, ia mengatakan bahwa kedua anak itu adalah alien yang dikirim ke bumi dari planet lain. Teori ini terdengar seperti kisah Clark Kent.

Namun, para penduduk Lokal Suffolk punya teori sendiri. Mereka percaya bahwa legenda ini berasal dari kisah nyata yang terjadi di Waylan Wood.

Menurut legenda, ada seorang pria yang menjadi wali dua anak kecil, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
 
Pria ini adalah paman kedua anak itu. Untuk menguasai harta warisan kedua anak itu, sang paman meracuni kedua anak ini dengan arsenik dan membuangnya ke hutan. Kedua anak ini tidak mati, namun karena efek arsenik, kulit mereka berubah menjadi hijau hingga mereka berhasil sampai ke Woolpit. Teori ini cukup rasional, walaupun tidak diketahui apakah arsenik bisa mengubah warna kulit menjadi hijau.

Teori terbaru mengenai anak-anak hijau ini diajukan tahun 1998 oleh Paul Harris.

Menurutnya, sebelum masa pemerintahan Henry II, Inggris timur banyak dimasuki oleh para pedagang Flemish (Belgia - Belanda). Ketika Henry II menjadi raja, para pedagang ini mengalami banyak penganiayaan dan pada perang St.Edmund tahun 1173, banyak diantara mereka yang dibantai.

Harris mengatakan bahwa kedua anak itu kemungkinan adalah keturunan para pedagang yang berasal dari desa dekat Fornham St.Martin yang berada hanya beberapa mil dari Woolpit dan dipisahkan oleh sungai Lark.

Kedua anak tersebut mungkin berhasil melarikan diri dari pembantaian menuju hutan Thetford. Hutan itu hanya sedikit menerima cahaya matahari sehingga membuat mereka mengira bahwa mereka berada di daratan yang gelap. Jika kedua anak itu melarikan diri dalam waktu yang cukup lama, mereka akan mengalami penyakit kekurangan gizi yang disebut Chlorosis (Green Sickness) yang membuat kulit menjadi hijau.

Harris juga percaya kalau suara lonceng yang mereka dengar adalah suara lonceng gereja di dekat St.Edmund yang kemudian menyebabkan mereka sampai ke Woolpit. Ketika mereka sampai ke Woolpit, mereka menjadi disorientasi karena lama tidak melihat cahaya. Pakaian mereka yang berasal dari pedagang Flemish dan bahasa yang berdialek Flemish tentu saja akan membuat penduduk desa keheranan.

Teori Harris sepertinya cukup masuk akal dan bisa menjelaskan banyak teka-teki yang meliputi kisah ini. Karena itu teori ini dianggap sebagai teori terbaik mengenai anak-anak hijau dari Woolpit. Namun, soal benar tidaknya teori ini, tentu saja tidak ada yang bisa memastikan.

Apakah anak-anak hijau tersebut benar-benar ada ?

Mungkin kita tidak akan pernah tahu. Bisa saja, legenda ini hanya sebuah imajinasi dari penulis abad pertengahan yang ditulis dengan gaya alegori.

Atau, mungkinkah kisah ini benar-benar terjadi, namun diceritakan dengan dramatisasi ?

Jika teori Harris memang benar, agak mengherankan memang. Mengapa kedua anak itu tidak berkata saja : 'Orang tua kami dibantai, kami melarikan diri dan tersesat di hutan'. Mengapa harus ada cerita mengenai daratan gelap, Penduduk St.Martin yang semuanya berkulit hijau, masuk ke gua misterius dan sampai ke Woolpit ?

Menurut saya, kisah ini akan tetap menjadi salah satu dari sekian banyak kisah yang tidak terpecahkan.

Catatan Tambahan :

Green sickness adalah salah satu jenis anemia yang memang bisa menyebabkan warna kulit berubah menjadi hijau. Gejalanya termasuk, kekurangan tenaga, nafas pendek, sakit kepala dan memiliki selera untuk memakan sesuatu yang bukan makanan, seperti garam dan abu.

Selain Green sickness, dalam dunia kedokteran, ada juga yang disebut sebagai Argyria, yaitu sebuah kondisi dimana warna kulit akan berubah menjadi biru, ungu atau abu-abu karena tubuh terkontaminasi oleh elemen perak.
 
Efek perubahan warna kulit ini biasanya terjadi secara permanen. Tapi pengobatan dengan teknologi laser konon dapat memberikan hasil yang cukup baik.



(llewellyn.com, mysteriouspeople.com)
filed under:
Warga Desa Kotanapal, Kecamatan Bungamayang, Lampung Utara (Lampura) geger. Pasalnya, Bekti Wahyuningsih, 21, warga desa setempat, setelah merasakan perutnya sakit dan membesar selama 3,5 jam langsung melahirkan bayi laki-laki normal. Gadis itu sebelumnya sama sekali tidak mengandung dan belum pernah berhubungan badan. Dikutip dari Poskota, bayi ajaib tersebut lahir tepat pukul 18.30 WIB Sabtu (10/10/09). Ketika lahir, di telapak tangan kanan bayi itu sempat muncul bentuk putih seperti tulisan Arab bertuliskan "Rahmadani".
Keajaiban berikutnya, saat lahir tubuh bayi yang memiliki berat 2,6 kilogram itu sangat bersih. Selain itu, beberapa jam setelah lahir sang bayi sudah lincah bergerak, seperti dapat membolak-balik badan ke kiri dan ke kanan. Sumarji, 42, paranormal setempat yang berada berada di rumah Bekti saat kelahiran bayi itu, mengaku ketika memeriksa tangan bayi tersebut ia melihat bentuk putih tulisan abjad Arab bertuliskan Rahmadani. Karena itu, ia menyimpulkan kelahiran anak tersebut sudah membawa nama sendiri.

“Tapi tulisan itu tidak lama dan kemudian menghilang. Karena tulisan itu bunyinya Rahmadani, anak itu diberi nama Rahmadani. Saya berpendapat anak ini nanti akan membawa rahmat bagi keluarga, desa ini, dan daerah ini” ujar nya.

Warga Desa Kotanapal sendiri menyambut gembira dan menyatakan murni kekuasaan Tuhan atas kelahiran bayi itu. Mereka menyakini bayi yang diberi nama Rahmadani itu akan mendatangkan rahmat bagi desa Kotanapal dan sekitarnya. Sedangkan Bekti, masih terbaring lemah usai melahirkan bayi ajaibnya itu. Dengan suara yang masih lemah, Bekti mengaku Sabtu (10/10), sekitar pukul 15.00, berada di dapur karena mau memasak. Tiba-tiba, ia merasa sakit di perutnya. Merasa sakit, Bekti memanggil Siti, sepupunya yang bersebelahan rumah. Namun saat Siti tiba di rumahnya, Bekti langsung jatuh pingsan. Siti yang terkejut memberitahu warga karena kedua orang tua Bekti sedang berada di Lampung Selatan. Warga yang datang lalu membawa Bekti masuk kekamarnya.

Sebelum nya, warga desa Kotanapal menyatakan kalau Bekti pernah mengalami kelumpuhan selama dua bulan, karna menderita sejumlah penyakit (komplikasi), antara lain sakit jantung, paru-paru, dan gangguan rahim. Setelah sembuh, wanita itu menjaga peliharaan ternak sapi orang tuanya. “Jadi memang selama ini Benti benar-benar tidak hamil. Ia melahirkan benar-benar karena atas kekuasaan dan kehendak Allah. Ini harus diterima dan ini adalah titipan-Nya yang harus dijaga” kata Ibnu Hajib, anggota DPRD Lampung Utara dari DP-II yang tinggal di Desa Kotanapal saat ditemui di rumah Bekri kemarin.

Lahirnya bayi laki-laki yang menghebohkan seantero Lampung pada Sabtu (10/10/09)lalu itu, merupakan anugrah bagi ibu dan keluargaanya namun juga meninggalkan sejuta misteri serta tanya. Siapa sebenarnya bayi yang lahir kurang dari empat jam masa kehamilan itu. Bekti Wahyuningsih, 21, yang merupakan ibu dari bayi ajaib itu sendiri, merasa tidak mengalami pertanda apa-apa baik saat akan datang kejadian itu maupun ketika bayi itu lahir. Menurut perempuan tamatan SMP tersebut, dirinya tidak merasakan apa-apa baik itu kejadian janggal maupun mimpi, sebelum kejadian dimana kehamilannya langsung melahirkan seorang bayi laki-laki.

“Saya tidak merasakan apa-apa, baik itu mimpi atau kejadian nyata. Yang saya rasakan hanya mules, lalu perut saya membengkak seperti orang hamil, lalu saya melahirkan bayi” jelasnya dengan terbata-bata.

Kerabat Bekti yang pada saat gadis lugu itu melahirkan ada di sana, juga tidak melihat kejanggalan baik dari diri kerabatnya itu, maupun di lingkungan sekitar rumahnya. Yang ia tahu saat itu Bekti mengeluh perutnya mules, lalu tak lama kemudian melahirkan bayi. Ia sendiri sempat sok dan terperanga, saat kerabatnya itu melahirkan bayi laki-laki dengan berat 2.6 kilogram itu padahal ia sendiri tahu, bahwa Bekti belum memiliki suami atau menikah dan ia pun mengaku tak pernah berhubungan intim dengan siapa pun.

Menurutnya lahirnya bayi laki-laki itu, bisa jadi sebuah anugerah dan rezeki, tetapi bisa juga menjadi pertanda. Pos Kota Online (12/10/09) memberitakan, gadis itu mengaku kaget, karena merasa tidak hamil, tapi melahirkan bayi laki-laki dalam kondisi sehat. Yang dia rasakan hanya mules sebelum melahirkan.

Sumber : ruanghati.com
filed under: ,
Copyright © 2013 artikel-fenomenal | Powered by Blogger
Design by Theme Junkie
Blogger Template by Lasantha | PremiumBloggerTemplates.com