Contact me on email :

- antogaul@gmail.com (Recomended)

- satriaji@live.com

- antogaul93@yahoo.com
Sejak Google Earth memperkenalkan fitur barunya untuk menjelajahi dunia bawah laut (Google Ocean), petualangan menjelajahi bumi secara virtual serasa semakin mengasyikan. Bayangkan, dengan fitur terbarunya kita dapat menjelajah jauh kedalam permukaan laut untuk menikmati pesona keindahan terumbu karang, menyusuri selimut misteri kapal-kapal karam, dan tak ketinggalan aktifitas yang satu ini, yaitu mencari puing-puing peradaban kuno yang terkubur di bawah laut!



Serius? jawabannya, iya! Baru-baru ini Google Ocean berhasil memperlihatkan citra menarik yang mengingatkan kita akan fragmen legenda kota-kota kuno yang terkubur di dasar laut. Gambaran menarik berukuran raksasa tersebut diindikasikan merupakan puing-puing kota kuno yang jauh terkubur didasar Samudera. Terletak di sekitar Samudera Atlantik pada kedalaman sekitar 17.800 kaki, mungkinkah ini merupakan reruntuhan dari kota legendaris Atlantis?

Filsuf Yunani kuno, Plato, dalam bukunya Timaeus dan Critias mengisahkan mengenai Atlantis. Kota yang dikisahkannya penuh dengan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut hancur lebur oleh bencana gempa bumi dahsyat dan serbuan gelombang tsunami hampir 12000 tahun yang lalu. Bencana maha-dahsyat itulah yang akhirnya melenyapkan peradaban Atlantis dengan sempurna. Kini banyak yang meyakini puing-puingnya terkubur di dasar laut.

Citra misterius yang terkubur di bawah samudera tersebut berjarak sekitar 620 mil dari Kota Cassablanca, Maroko. Lokasinya hampir sama dengan apa yang dikisahkan Plato, yaitu di bagian luar Pilar Hercules. Pilar Hercules merupakan kata yang digunakan oleh orang Yunani kuno untuk menyebutkan selat Gibraltar. Jadi, apakah citra misterius tersebut merupakan bagian dari puing-puing kota Atlantis?

Dr. Charles Orser – pakar Arkeologi dari New York State University – yang merupakan salah satu pimpinan dalam ekspedisi pencarian Atlantis mengatakan bahwa penemuan ini sangat mengagumkan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa gambaran itu mungkin merupakan petunjuk kuat mengenai lokasi Atlantis sesuai dengan yang digambarkan Plato. Namun butuh observasi secara seksama untuk benar-benar membuktikannya.
Cukup menggairahkan memang, dan tak ada salahnya jika kawan-kawan juga turut mencobanya. Siapa tahu ojek-objek misterius lainnya menunggu untuk ditemukan
filed under: ,
BAGI pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl)

Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.

Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!



"Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia," jelas ahli geologi Fransiskus Benediktus Widodo Margotomo saat memaparkan sejarah terbentuknya Pulau Papua.

Keberadaan Pulau Papua saat ini, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.

Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.
"Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari," tambah sarjana geologi jebolan Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta, pada 1986 ini.
Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, sambungnya, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.
Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.
Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.
Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologi dunia.
Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.
"Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru," tambah peraih gelar master di bidang Economic Geology dari James Cook University, Townswille, Australia ini.
Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.
filed under: ,
Copyright © 2013 artikel-fenomenal | Powered by Blogger
Design by Theme Junkie
Blogger Template by Lasantha | PremiumBloggerTemplates.com