Setiap negara, setiap kebudayaan, dan setiap suku memiliki tradisi masing-masing. Banyak di antaranya yang asing bagi orang-orang di luar kebudayaan itu sendiri, bahkan mungkin ada yang terdengar tak masuk akal. Ada pula yang menyakitkan dan terkesan kejam seperti dipaksa meminum racun hingga amnesia atau mengenakan sarung tangan berisi semut-semut mematikan. Namun semua itu harus dijalani demi lestarinya tradisi yang dianggap luhur. Tak hanya kaum pria saja, para wanita pun tak lepas dari tradisi-tradisi menyakitkan seperti ini, terutama bagi mereka yang berasal dari suku-suku yang masih memegang teguh tradisi Berikut 8 Tradisi Budaya Kejam pada Wanita di berbagai belahan Dunia dikutip dari merdeka and artikel-fenomenal.blogspot.com:


1. Khitan perempuan suku Sabiny, Uganda
Khitan perempuan suku Sabiny, Uganda
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Khitan untuk wanita sebenarnya adalah praktik yang cukup umum ditemui dalam berbagai budaya, termasuk Indonesia. Tetapi proses khitan untuk menandai kedewasaan perempuan yang dijalankan oleh suku Sabiny

di Uganda ini cukup mengerikan dan tak biasa. Dalam khitan ala suku Sabiny, bagian klitoris wanita akan dipotong sebagian. Kadang-kadang klitoris dipotong seluruhnya. Alasannya, dengan tak adanya klitoris hasrat seksual wanita akan berkurang. Jadi dia akan selalu setia kepada suaminya kelak dan tidak memiliki perilaku 'liar' di ranjang (yang dianggap memalukan). 

Saat khitan berlangsung, perempuan yang menjalaninya harus menahan rasa sakit luar biasa ketika klitoris disayat. Jika berhasil melaluinya, dipercaya si perempuan nantinya sanggup menanggung rasa sakit saat melahirkan anak-anaknya kelak dan melalui berbagai cobaan dalam hidup.

Praktek khitan tradisional ini dianggap berbahaya oleh kalangan medis karena tidak dilakukan secara higienis dan tak ada perawatan khusus untuk mengurangi risiko infeksi pada organ pasien.

Sebenarnya tak hanya suku Sabiny Uganda saja yang menjalankan tradisi khitan tanpa pengawasan medis yang berbahaya ini. Khitan bagi perempuan secara tradisional merupakan praktik yang saat ini masih menghantui para wanita di Timur Tengah, Afrika, dan sebagian kebudayaan di Asia.


2. Penyayatan perut, Nigeria
Penyayatan perut, Nigeria
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Etnis Tiv yang tinggal di Nigeria memiliki ritual menyakitkan yang harus dilakukan para wanita untuk inisiasi menuju kedewasaan. Begitu mendapatkan haid, gadis-gadis suku Tiv harus menjalani ritual penyayatan perut. Untuk menandai kedewasaan, 

perut gadis yang baru mendapat haid tersebut disayat dengan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang.  Rasanya sudah pasti menyakitkan karena proses berlangsungnya ritual tidak disertai dengan obat bius atau tindakan medis untuk pencegahan infeksi. Ritual ini sifatnya wajib bagi para perempuan di sana. 

Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Seorang gadis baru bisa disebut wanita sejati jika sudah memiliki empat bekas sayatan di perutnya. Dengan begitu mereka pun bisa mendapatkan jodoh yang baik.


3. Setrika dada, Kamerun
Setrika dada, Kamerun
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Kalau kebanyakan wanita di berbagai belahan dunia memimpikan payudara yang menonjol indah, di negara yang satu ini justru kebalikannya. Meskipun tidak diakui secara terbuka, menurut Washington Post banyak gadis kecil yang baru mengalami pubertas di Kamerun, salah satu negara di Afrika Barat yang menjadi sasaran praktik setrika payudara. Gadis-gadis di Kamerun, terutama yang hidup dalam lingkungan dengan budaya tradisional harus menjalani proses di mana dada mereka disetrika agar jadi benar-benar rata.
Setrika dada, Kamerun
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Para ibu yang memiliki anak gadis di usia remaja menyetrika dada puteri mereka yang sedang tumbuh dengan batu, palu, spatula logam, atau kayu yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Setelah itu si anak diharuskan mengenakan sejenis korset untuk semakin menyamarkan bentuk dadanya. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan si anak dari 'perhatian yang tak diinginkan' para pria.

Orang-orang Kamerun berpendapat kalau dada yang menonjol bisa menimbulkan birahi. Jadi dengan dada yang rata para wanita akan terhindar dari pelecehan dan tampak lebih terhormat. Para ibu nekad menyetrika dada putri mereka sendiri karena mereka tak ingin putri mereka menarik perhatian kaum pria pada usia dini dan mengalami kehamilan di luar nikah
Setrika dada, Kamerun
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Menurut data UNFPA setidaknya 24 persen dari semua wanita Kamerun, atau sekitar 4 juta orang telah menjadi korban setrika payudara. Kebanyakan mengalaminya pada usia 9 tahun. Saat ini dunia internasional menganggap setrika payudara sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

Sejumlah organisasi nirlaba sedang mengkampanyekan dan mengusahakan agar praktik yang membahayakan ini dihapuskan selamanya. Sebab selain sangat menyakitkan dan melanggar integritas fisik seorang wanita, praktik 

setrika payudara juga mengekspos gadis muda terhadap berbagai masalah kesehatan seperti peradangan, gatal, infeksi, ketidaksimetrisan payudara, kista, serta kerusakan jaringan. tak jarang gadis yang pernah mengalami setrika payudara kemudian dadanya tak bisa tumbuh sama sekali.

4. Dipaksa berendam di laut saat haid
Dipaksa berendam di laut saat haid
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Suku pribumi Nootka yang mendiami wilayah di Kepulauan Vancouver juga punya ritual menyakitkan yang harus dijalani para gadis yang baru memasuki kedewasaan. Gadis yang mendapatkan haid untuk pertama kalinya atau 'menarche' menurut istilah suku tersebut, gadis tersebut harus menjalani semacam ujian fisik untuk membuktikan ketahanannya sebagai seorang wanita. Salah seorang tetua wanita dari suku tersebut akan membawa si gadis ke laut dan kemudian meninggalkannya di sana.

Gadis itu harus berendam di tengah air laut dalam keadaan telanjang (dan dalam keadaan haid) selama beberapa hari untuk menguji kekuatan fisiknya. Entah apa tujuannya ujian fisik dengan cara seperti ini. Barangkali untuk mempersiapkan si gadis untuk menghadapi rasa sakit saat melahirkan kelak.

Yang pasti saat ujian berakhir seringkali si gadis sudah tak kuat untuk berdiri, apalagi mengangkat tubuhnya keluar dari air. Kalau sudah begini ia akan disoraki anggota suku lainnya karena sudah berhasil melewati tantangan dan siap menjadi seorang wanita dewasa.


5. Dibakar dan digigit semut beracun
Dibakar dan digigit semut beracun
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Para wanita dari Suku Carib yang berasal dari daerah Suriname tidak hanya harus menjalani satu ritual menyakitkan untuk menyambut pubertas, tetapi dua sekaligus. Begitu sudah mendapatkan haid untuk pertama kalinya, gadis suku Carib harus menjalani rangkaian ritual di mana ia akan mendapatkan luka bakar serius dan tersengat racun.

Mula-mula si gadis dipaksa untuk memegang gumpalan kapas yang terbakar, sehingga tangan mereka melepuh karena terbakar. Dan mereka harus menahan rasa sakit itu sampai waktu yang ditentukan, karena ritual ini merupakan bagian dari ujian sebagai seorang wanita dewasa.

Setelah menjalani ritual pertama, masih ada ritual lanjutan yang harus dijalani lagi. Si gadis diperintahkan untuk mengenakan kain penutup tubuh dari sejenis tikar yang bagian dalamnya dipenuhi dengan semut beracun. Gigitan semut beracun yang sangat menyakitkan ini akan menjadi sarana uji kekuatan dan keberanian bagi si gadis.


6. Diasingkan selama tiga bulan
Diasingkan selama tiga bulan
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Suku Ngoni yang berasal dari daerah pedalaman di negara Malawi memiliki tradisi yang sedikit mirip dengan suku Nootka di Vancouver, Kanada. Ketika seorang gadis hendak memasuki kedewasaan secara resmi, dia harus diasingkan

terlebih dahulu. Si gadis akan ditempatkan di sebuah area terpencil seorang diri selama tiga bulan penuh.Wajah dan tubuhnya dipulas dengan sejenis tepung putih yang menandakan pemisahan fisik dan rohani dari masyarakat di mana dia tinggal.

Seolah diasingkan seorang diri selama tiga bulan masih belum cukup buruk, ia masih harus menjalani satu ritual penentuan lagi. Si gadis diminta duduk telanjang di dalam air sungai atau danau selama beberapa waktu sampai salah satu wanita yang dituakan di sukunya memperbolehkan dia bisa keluar dari pengasingan dan memulai hidupnya sebagai wanita sejati.


7. Dikubur di dalam pasir
Dikubur di dalam pasir
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Satu lagi tradisi menyambut kedewasaan wanita yang membuat dahi berkerut. Kali ini dari suku Luiseno, suku pribumi yang mendiami wilayah selatan California. Ketika seorang gadis mendapatkan haid untuk pertama kali, keluarga si gadis akan menyambutnya dengan gembira. Orang tuanya akan mengumumkan kabar gembira itu kepada seluruh anggota suku.

Setelah itu keluarga dan para tetua suku mengatur sebuah prosesi untuk menyambut kedewasaan si gadis. Si gadis akan dikubur di pasir pada tengah hari. Dan karena California selatan merupakan daerah panas, tentunya pasir yang digunakan untuk mengubur tadi memiliki suhu yang panas pula. Tetapi si gadis harus menjalani ritual itu dengan bangga sebab dengan ritual penguburan diri ini kekuatan dan ketangguhannya sebagai wanita akan diakui oleh seluruh anggota suku.

Selagi dikubur di dalam pasir, si gadis akan mendengarkan berbagai wejangan dari wanita yang lebih tua di sukunya mengenai perubahan fisiologis tubuhnya, perilaku yang pantas, dan cara menjadi seorang istri yang baik. Setelah itu barulah ia benar-benar dianggap sebagai wanita dewasa yang sudah layak untuk menempuh tahap selanjutnya dalam kehidupan seorang wanita, yaitu menjadi istri.


8. Lari saat haid
Lari saat haid
[artikel-fenomenal.blogspot.com] - Tradisi berkesan kejam yang terakhir ini berasal dari suku Navajo, sebuah suku pribumi yang berasal dari Amerika bagian utara dan suku pribumi Indian Apache. Begitu mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya, perempuan dari suku Navajo dan Apache harus mengikuti sebuah lomba lari. Ya, benar, lomba lari.

Dan untuk itu mereka harus mengenakan pakaian tradisional dari kulit rusa yang berat. Selama empat hari berturut-turut gadis ini (dalam keadaan haid) harus harus bangun saat matahari terbit dan berlari menuju arah datangnya matahari terbit.

Lebih buruk lagi, saat malam setelah berlari pada hari pertama dia harus duduk selonjor sepanjang malam. Keesokan harinya ia harus membuat kue dari tepung jagung yang sangat besar untuk disajikan kepada seluruh anggota suku. Entah apa filosofi yang tersimpan di balik ritual melelahkan tersebut.

masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru setiap hari

filed under:
Copyright © 2013 artikel-fenomenal | Powered by Blogger
Design by Theme Junkie
Blogger Template by Lasantha | PremiumBloggerTemplates.com